Menjadi Pemimpin Yang Ideal

menjadi pemimpin yang idealPemimpin atau boss ? Meskipun keduanya sama-sama menjadi pimpinan dari satu perusahaan, tapi jelas ada dua perbedaan. Boss adalah seorang yang hanya bisa memerintah, tanpa memperdulikan anak buah. Sedangkan pemimpin, tak hanya bisa memerintah, tapi ia adalah orang bisa memimpin, membimbing dan juga mengarahkan orang-orang yang ada di dalam perusahaan atau kepemimpinannya.

Menjadi seorang pemimpin tentu membutuhkan bekal yang cukup banyak untuk menjadi pemimpin yang ideal. Tidak hanya dari segi sikap seperti tanggung jawab, tegas dan berwibawa, akan tetapi juga dari segi bagaimana anda akan menyikapi orang lain, khususnya bawahan anda.

 

1. Memberi contoh dengan tindakan
Memberi contoh (yang positif) adalah salah satu cara termudah untuk menjadi pemimpin yang disegani. Kalau ingin anak buah datang tepat waktu, maka Anda juga harus datang lebih awal. Ingin karyawan Anda menjadi rajin? Anda harus memberi teladan dengan bekerja yang rajin pula. Para karyawan akan termotivasi jika pimpinannya bekerja sama keras dengan mereka, daripada bos yang hanya main suruh. Kalau bisa, tunjukkan bahwa Anda bekerja dua kali lipat lebih keras daripada mereka. Lambat laun anak buah akan menghargai dedikasi Anda tanpa perlu harus dinasihati panjang lebar.

2. Berpandangan jauh ke depan
Tugas pemimpin adalah menjadi pemandu. Ibarat sekelompok pecinta alam yang akan menaiki gunung, pemimpin harus berada di depan, memegang pisau untuk menerabas ilalang yang menghalangi jalan. Ia harus menempuh segala risiko untuk mengantarkan timnya hingga ke puncak. Seorang pemimpin juga harus berpandangan jauh ke depan sekaligus tahu cara menjalankan rencananya. “Pemimpin di sektor wirausaha bahkan harus lebih visioner, karena ia sendiri yang menentukan arah perusahaannya,” kata Wesmira. Hanya sekadar mengandalkan passion tidak cukup untuk menciptakan bisnis yang sukses. Anda perlu strategi. Rencanakan apa saja yang ingin Anda capai selama lima tahun ke depan berikut langkah-langkah untuk mencapainya. Jika sulit menentukan visi atau menyusun langkah yang tepat, gunakan jasa penasihat bisnis profesional.
3. Tidak ‘berjarak dengan bawahan
Pemimpin yang menempatkan dirinya terlalu ‘tinggi’ membuat bawahan? Sudah kuno! Bukan saja mereka jadi sungkan (atau malah sebal) pada Anda, tapi Anda pun kehilangan kesempatan untuk mengetahui masalah dan kemajuan yang mereka hadapi dalam pekerjaan. Sebaliknya, bila hubungan pimpinan dengan bawahan lebih cair, akan terjalin komunikasi yang lebih saling menguntungkan. Sesekali ajaklah mereka makan siang bersama, sempatkan mengobrol dengan tiap karyawan walau sekadar mengucapkan selamat ulang tahun jika Anda mengetahuinya. Buat rapat rutin setidaknya seminggu sekali untuk mengumpulkan seluruh anggota tim. Di situ mereka bisa sharing apa pun tentang progres maupun kesulitan yang mereka hadapi. Dengarkan dengan sabar keluh-kesah mereka. Hargai mereka sebagai orang-orang yang mendukung kesuksesan Anda.

4. Jadilah dermawan
Dermawan dalam hal ini tidak selalu menyangkut uang, bonus, hadiah, atau segala sesuatu yang berbentuk materi. Memberi pujian dan semangat di saat anak buah sedang kehilangan motivasi juga bisa disebut sebagai bentuk kedermawanan dan loyalitas seorang pemimpin. Pujilah saat mereka mencetuskan ide cemerlang atau berprestasi, kalau perlu di depan rekan-rekannya. Dengan begitu, si karyawan berprestasi akan merasa dihargai dan diperhatikan. Ketika staf Anda melakukan kesalahan, apalagi bila hanya sesekali, maafkan mereka dan arahkan untuk memperbaiki kesalahannya. Tak perlu dengan gampang mengancam untuk memecat jika kesalahannya masih bisa diperbaiki.

5. Mampu delegasikan tugas
Setiap pemimpin pasti punya pemikiran egoistis dalam dirinya, seperti, “Tidak ada yang bisa melakukan tugas ini selain saya sendiri.” Namun, pemimpin yang efektif justru mereka yang menyadari bahwa dirinya tidak bisa mengerjakan semua hal. Karena itu, mereka bersedia mendelegasikan tugas dan memberdayakan kekuatan dan bakat anak buahnya. Dengan membiarkan karyawan untuk mengambil tanggung jawab ekstra, secara tidak langsung Anda ikut membangun jiwa kepemimpinan pada diri mereka. Mengikutkan staf Anda untuk mengikuti training adalah bentuk investasi di bidang SDM, selain bentuk apresiasi terhadap karyawan.

Intinya, seorang pemimpin itu efektif bila ia mampu menciptakan organisasi yang tidak sepenuhnya tergantung pada dirinya. Ia bisa menduplikasi atau menggandakan dirinya lewat sifat-sifat yang ia tanamkan kepada para bawahannya. Tanpa hadir pun, ia bisa memberikan efek ‘hadir’. Dan karyawan akan tetap menjalankan tugasnya dengan bertanggung jawab.

kiki

Passionate to Marketing, an Internet Marketing Enthusiast. Learning all things about writings, market research and digital marketing. I'm a believer that just want to share everthing about inspiring and fun things around me. So, lets learn together. " sometimes we win, and sometimes we learn "

 
mau belajar bikin web ?Click Disini
%d bloggers like this: