Dikira Hanya Migrain, Remaja Ini Malah Sekarat karena Stroke

remajastrokeMigrain bisa dibilang sudah umum di masyarakat. Meski menganggu, sakit kepala sebelah ini jarang menyebabkan kematian. Namun seorang remaja tiba-tiba sekarat karena stroke yang sebelumnya dikira hanya migrain.

James Finnerty, pemain rugby dari Parma Heights, Ohio, terbangun dengan rasa sakit menusuk di kepalanya pada suatu pagi bulan April lalu. Ia nyaris tidak bisa berjalan, tersandung bahkan muntah-muntah.

Para dokter di ruang gawat darurat berasumsi bahwa James menderita migrain parah. Namun ia tak segera mendapatkan pengobatan. Ibunya pun bersikeras untuk memindahkan James ke Cleveland Clinic’s Center for Pediatric Neurology, di mana kemudian dokter menemukan stroke.

Pembengkakan di otaknya begitu kuat sehingga bagian dari tengkoraknya harus diangkat untuk mengurangi tekanan. Sayang, pada serangan stroke kedua, ia harus kehilangan kemampuan bicara dan lumpuh anggota badan.

Hampir setahun kemudian, setelah berbulan-bulan menjalani terapi fisik, James yang kini berusia 16 tahun, berada pada masa pemulihan. Namun yang membuatnya tak habis pikir, ia menderita stroke di usia sangat dini, saat ia masih berusia 15 tahun.

“Saya hampir 100 persen (sembuh). Saya sangat sangat beruntung,” ujar James Finnerty, yang kini sudah kembali sekolah, seperti dilansir ABC News, Selasa (12/2/2013).

Stroke selalu identik dengan penyakit orang tua, namun sekitar 3.000 anak menderita stroke tiap tahun, yang menjadikannya salah satu dari 10 penyebab utama kematian di kalangan anak-anak, menurut Dr Neil Friedman, ahli saraf pediatrik di Cleveland Clinic’s Center for Pediatric Neurology, tempat James dirawat.

Sebagian besar anak-anak ini akan bertahan hidup, namun mereka akan menghadapi gangguan neurologis atau kognitif hingga bertahun-tahun lamanya.

“Perbedaan besar dalam stroke pediatrik (stroke pada anak) adalah adanya pemulihan hampir 100 persen, karena kemampuan anak-anak untuk beradaptasi dan mengakomodasi jauh lebih baik daripada orang dewasa. Ketika mereka bertahan hidup, mereka dapat memiliki enam atau tujuh dekade kecacatan,” jelas Dr Friedman.

James belum sembuh total karena ia masih memiliki beberapa masalah dalam pemahaman dan keseimbangan. Dan meskipun MRI menunjukkan arterinya tidak mengalami penyumbatan, dia tetap berisiko untuk stroke di masa depan.

Stroke pediatrik lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Ras dari Afrika Amerika juga lebih rentan, bahkan termasuk orang yang memiliki anemia sel sabit, yang berhubungan dengan risiko stroke.

Stroke terjadi ketika pasokan darah ke bagian otak terputus, mengakibatkan cedera jaringan dan hilangnya fungsi otak. Bila jaringan kekurangan oksigen selama lebih dari tiga menit, ia mulai mati.

Ada dua jenis stroke, yakni stroke iskemik yang terjadi ketika arteri otak tersumbat oleh gumpalan, dan hemoragik, yang terjadi ketika arteri otak pecah karena trauma atau kelainan.

Pada anak yang lebih tua, sekitar sepertiga dari semua stroke berhubungan dengan penyakit jantung. Tapi itu tidak terjadi dengan James Finnerty, yang tidak memiliki riwayat tersebut. Stroke yang dialami James terjadi setelah mengalami benturan di kepala dalam permainan rugby tahun 2012, yang menyebabkan arteri membentuk gumpalan dalam otaknya.

taken fr detik.com

kiki

Passionate to Marketing, an Internet Marketing Enthusiast.
Learning all things about writings, market research and digital marketing.

I’m a believer that just want to share everthing about inspiring and fun things around me. So, lets learn together.

” sometimes we win, and sometimes we learn “

 
mau belajar bikin web ?Click Disini
%d bloggers like this: