Bermodal Rp5 Juta, Produksi Jamur Bantul Makin Berkibar

budidayajamurtiramBerbekal pengalaman dan semangat yang pantang menyerah serta modal Rp 5 juta, kini produksi jamur di Kelompok Tani Sedyo Lestari telah dijual ke berbagai kota di Indonesia. Bahkan petani yang mulai menekuni produksi jamur tidak saja di wilayah Sedayu, Bantul namun telah merambah di Kabupaten lain di DIY.

Lestari, ketua kelompok tani Sedyo Lestari, menuturkan, ide awal produksi jamur bermula ketika ia melihat peluang saat bekerja pada sebuah perusahaan jamur di Sukabumi pada 1989.

“Kala itu, saya berpikir ingin membuat usaha sendiri yang cocok dengan latar belakang pendidikan. Saya juga pernah bermimpi mengajarkan apa yang saya dapat pada orang lain,”katanya, Sabtu( 10/10/2009).

Menurutnya, selama empat tahun Ia mempelajari seluk beluk pembuatan jamur hingga memproduksi usaha jamur sendiri. Pada 1994, Lestari kemudian hijrah ke Banjarmasin bersama keluarga. Berbekal niat membangun usaha mandiri, Ia membuat usaha jamur kecil-kecilan, untuk memenuhi pasar lokal. Dengan modal awal Rp5 juta, ia mampu menjual jamur di beberapa pasar tradisional.

Tidak puas dengan produksi di Banjarmasin, lulusan SI pertanian Universitas Negeri Solo (UNS) mencoba keberuntungan baru di Yogyakarta. Alhasil, Ia mampu menggerakkan kelompok tani hingga mendorong dusun lain melakukan usaha yang sama seperti Dusun Jambon, Kalijoho, dan Tonalan.

“Ide itu menular pada kelompok tani lain. Butuh proses panjang untuk menciptakan kesadaran usaha setiap kelompok tani,”ujarnya.

Pada Mei 2008, bersama anggota kelompok tani, pembibitan jamur dimulai. Awalnya, mereka hanya mengandalkan pinjaman alat produksi, dengan modal awal Rp20 juta. Menggunakan drum-drum bekas, para pekerja mulai melakukan proses sterilisasi baglog. Awalnya, kapasitas produksi hanya mampu menghasilkan 100 baglog per hari. Setiap baglog jamur mampu menghasilkan setengah Kilogram (Kg) jamur. Kini, kapasitas produksi berkembang hingga 1.500 baglog per hari.

Usaha rumahan itu mampu memenuhi pasaran Jogja, Solo, dan Bandung. Petani-petani asal Sleman, Kota, Bantul semakin meminati pengembangan bibit jamur. Lestari menuturkan, petani mulai melirik potensi pasar jamur yang semakin menggiurkan. Mereka bahkan kewalahan untuk memenuhi
permintaan dari berbagai wilayah.

Kelompok tani mendatangkan serbuk gaji kayu sengon, sebagai bahan baku dari Wonosobo. Prosesnya sangat mudah, yakni pencampuran bahan baku serbuk gergaji, kapur, dan bekatul dengan biaya produksi rata-rata Rp1.000 untuk satu baglog. Sementara, untuk proses pemanasan membutuhkan
suhu 90 derajat celcius, untuk mendapatkan hasil yang baik.

Proses pembuatan bibit dari awal hingga menghasilkan jamur membutuhkan waktu satu minggu lebih. Dengan kata lain, dalam satu bulan kelompok tani berproduksi selama dua kali.

“Kami terus kembangkan usaha ini jalan kerjasama dengan laboratorium khusus untuk budidaya jamur di Ngipik,”tandasnya.

Mereka menjual jamur yang berkhasiat menghilangkan racun dengan harga bervariasi. Untuk jamur kuping basah segar per-kilogram Rp3.000, kering Rp38.000-40.000, sedangkan untuk bibit jamur tiram basah Rp8. 000-9.000 per kilogram.

Usaha itu tak hanya menguntungkan dari sisi produksi. Kelompok tani bahkan bisa memanfaatkan limbah bahan baku menjadi pupuk. Dari hasil uji coba di Temanggung, pupuk dari limbah jamur cukup baik untuk tanaman tembakau.(daruwaskita/trijaya)(adn)

[okezone.com]

kiki

Passionate to Marketing, an Internet Marketing Enthusiast. Learning all things about writings, market research and digital marketing. I'm a believer that just want to share everthing about inspiring and fun things around me. So, lets learn together. " sometimes we win, and sometimes we learn "

6 thoughts on “Bermodal Rp5 Juta, Produksi Jamur Bantul Makin Berkibar

 
mau belajar bikin web ?Click Disini
%d bloggers like this: