Jangan Menyuruh Bayi Belajar!

MEMBERIKAN stimulasi kepada bayi atau anak dengan metode flash card mungkin pernah Anda dengar atau bahkan dipraktikan.  Di kalangan para ahli psikologi dan perkembangan anak, memberi stimulasi dengan metode flash card ini mengundang pro dan kontra.

Ada yang menilai metode ini baik selama sifatnya tidak memaksa dan disesuaikan dengan tahapan. Namun ada pula yang berpendapat stimulasi dengan cara flash card bukanlah stimulasi alami seperti halnya aktivitas bermain pada anak.

Salah satu ahli yang menentang metode stimulasi flash card adalah Psikolog dan Playtherapist dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia Dra. Mayke S. Tedjasaputra, M.Si. Dalam pandangannya, mengajarkan anak dengan flash card termasuk kategori overstimulation atau stimulasi yang berlebihan.

“Tidak benar menyuruh bayi belajar, misalnya dengan flash card karena ini adalah overstimulation. Seorang pakar bermain Brian Sutton-Smith menegaskan ini sudah termasuk cognitive child labor atau secara kognitif anak sudah dipekerjakan terlalu keras,” ungkap Mayke di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurut pendapat Mayke, ketika orang tua menyodorkan flash card berarti anak harus diam dan diminta memperhatikan sehingga anak sudah dituntut untuk belajar. “Di sana yang lebih ditekankan adalah faktor kognitifnya. Padahal di usia awal pertumbuhan yang harus dikembangkan adalah senses-nya (sensomotorik), bukan memori. Artinya, bukan melatih memori secara khusus dengan diperlihatkan flash card.  Itu sudah termasuk belajar yang sepertinya ada target yang ingin dicapai. Jadi sudah bukan bermain lagi,” ungkapnya.

Mayke mengakui bahwa dengan pemberian metode flash card yang sifatnya singkat-singkat, mungkin anak akan cepat menangkap, mengingat dan mempelajarinya. Ada banyak penelitian yang mendukung maupun yang menentang  metode ini. “Tentu penelitian itu ada yang pro dan kontra. Ada yang mengatakan itu bagus. Tetapi kontra juga sudah mengatakan bukti-bukti bahwa itu tidak baik bagi perkembangan anak karena masa anak adalah masa bermain di mana mereka tak bisa dituntut untuk diam dan belajar dengan suatu materi,” tegasnya.

Mayke juga menilai dengan metode flash card hanyalah membantu percepatan kemampuan untuk sementara, dan yang dikhawatirkan justru anak akan jenuh sebelum waktunya. “Dari hasil penelitian menunjukkan, rangsangan terlalu dini yang sifatnya overstimulation ketika anak sudah bisa membaca hanya merupakan percepatan yang bersifat  sementara.  Tetapi saat mereka sudah menginjak kelas 4 SD dan prestasinya dibandingkan, tidak ada perbedaan yang signifkan,” terangnya.

Bukti penelitian yang kontra dengan metode flash card tersebut, kata Mayke, salah satunya adalah yang dimuat film berjudul Smart Babies dari Discovery Health Channel. “Di situ, apa dikemukakan Glenn Doman dimentahkan, melalui penelitian psikologis.  Para ahli yang dilibatkan dalam riset itu adalah psikiater, ahli neurologi, psikolog anak, pendidik anak,” paparnya.

Yang juga dikhawatirkan, kata Mayke, bila orang tuanya ambisius, mereka menginginkan target tertentu. “Ketika anaknya diajarkan, lalu mereka frustasi, nah itu bahayanya.  Metode ini juga dapat memancing orang tua untuk membenarkan bahwa sejak bayi anak harus belajar” ujarnya.

Yang lebih baik, lanjut Mayke, anak diberikan metode dengan apa yang mereka alami secara faktual bukan melalui gambar.  “Flash card hanya gambar, gambar yang tidak  faktual. Lebih baik mereka belajar misalnya apa itu bola dengan cara memagang dan memainkannya. Karena yang penting dalam tahap ini adalah sensomotor, semua indera perlu dirangsang, Jadi anak tidak hanya belajar dengan melihat dan mengingat kartu-kartu itu,” ujarnya.

Ia menekankan kembali bahwa pada usia batita yang perlu dirangsang adalah sensomotoriknya karena kemampuan berpikirnya masih pra-operasional sehingga yang harus diberikan adalah sesuatu yang konkret, nyata, dialami, dirasakan.  Akan lebih baik bila anak-anak atau bayi diterjunkan langsung dengan pengalamannya.

Kalaupun mau memperkenalkan gambar kepada anak, lanjut Mayke, orang tua mungkin dapat melakukannya dengan cara menghubungkannya langsung dengan sesuatu yang nyata. “Pada anak usia setahun misalnya sambil dipangku, kita  perlihatkan gambar mobil lalu lihat juga  mobil ayah seperti apa. Jadi related to something very completely real,” ujarnya.
AC

kiki

Passionate to Marketing, an Internet Marketing Enthusiast. Learning all things about writings, market research and digital marketing. I'm a believer that just want to share everthing about inspiring and fun things around me. So, lets learn together. " sometimes we win, and sometimes we learn "

0 thoughts on “Jangan Menyuruh Bayi Belajar!

  • January 14, 2009 at 12:30 pm
    Permalink

    salam kenal sebelumnya mbak,

    apa yang disampaikan di atas, menurut saya bisa tidak. bisa juga ya. hal ini berangkat dari teori-teori psikologi yang saya pelajari. plus dengan berbagai praktik yang telah kami lakukan kepada putera-puteri kami. sebab sejak puteri kami pertama lahir, kami tidak berani membuat asumsi-asumsi atas teori tersebut. jadi stimulus yang memang baik untuk perkembangan dan pertumbuhan anak, itulah yang kami lakukan. sebab kami tidak ingin anak kami menjadi kelinci percobaan. apalagi anak orang lain.

    lepas dari kontroversi flashcard-nya glenn doman, toh kami lakukan juga itu. tapi dengan kombinasi. sehingga metode itu bukanlah satu-satunya ‘makanan’ harian anak saya. kebetulan kami adalah praktisi homeschooling. jadi kecemasan-kecemasan para ahli tersebut dapat kami eliminasi dengan berbagai tritmen. sebab kami yakin bahwa setiap individu memiliki ciri khas. demikian juga cara belajar mereka.

    kebetulan kami keluarga muslim. sejak balita sudah kami biasakan menghafalkan al-Qur’an. justru kami yakin dengan metode kami. bahwa: anak yang memiliki kemampuan menghafalkan al-Qur’an. pasti akan lebih mudah menyerap pelajaran. dengan model apapun. ini kami buktikan kepada anak kami.

    ternyata, kemampuan kognisi, konasi dan psikomotor anak dapat berkembang baik dengan stimulus dan tritmen yang variatif sesuai dengan tingkat keminatan anak. tapi ada tritmen satu yang wajib bagi kami. yaitu menghafalkan al-Qur’an.

    dunia teori, baik itu psikolog atau psikiater belum pernah menyentuh ini. saya searching-pun, belum pernah yang meneliti keberadaan teori menghafalkan al-Qur’an. padahal teori ini sudah muncul sejak 1429 tahun yang lalu. dan ribuan bahkan ratusan ribu, cerdik cendikia ‘dihasilkan’ dari teori ini. sebut saja Muhammad, abu bakar, umar, ustman, ali, al-kindi, ibnu jabir, zubair, al-jabir, dll. yang menjadi rujukan para ahli psikologi kontemporer.

    maaf, mungkin itu dulu mbak. mohon ijin untuk ngelink ya…

%d bloggers like this: