Bila bayi dan anak anda mengalami kejang

Pernahkah anda mendapati bayi atau anak anda tiba-tiba kejang setelah sebelumnya menderita panas? Bila pernah, sangat mungkin bayi atau anak anda mengalami satu penyakit yang dikenal sebagai kejang demam. Banyak masyarakat yang menghubungkan kejang demam dengan penyakit epilepsi, dan selalu beranggapan bahwa nantinya si anak akan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang mempengaruhi tingkat kecerdasan si anak.

Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada bayi dan anak yang umumnya terjadi pada rentang usia 6 bulan hingga 5 tahun. Jarang sekali terjadi untuk pertama kali pada usia kurang dari 6 bulan atau lebih dari 3 tahun. Kejang ini diprovokasi oleh terjadinya demam terlebih dahulu tanpa adanya infeksi pada system saraf pusat. Demam yang terjadi biasanya pada suhu rektal lebih dari 38oC.

Kejang demam terjadi karena pusat pengaturan panas di otak bayi atau anak belum berkembang secara maksimal, sehingga pada keadaan demam akan terjadi kejang. Dapat dikatakan bahwa bayi atau anak yang mempunyai ambang panas yang rendah, sehingga pada keadaan demam yang tidak terlalu tinggi pun, si anak bisa kejang.

Yang terjadi pada saat kejang adalah bahwa pada keadaan demam, kenaikan suhu 1oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10% – 15% dan kebutuhan oksigen 20%. Akibatnya terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel otak dan dalam waktu singkat terjadi difusi dari ion Kalium maupun ion Natrium melalui membran tadi, sehingga terjadi lepasnya muatan listrik.

Lepasnya muatan listrik yang cukup besar dapat meluas ke seluruh sel/membran sel di dekatnya dengan bantuan neurotransmiter, sehingga terjadi kejang. Kejang tersebut kebanyakan terjadi bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat, misalnya tonsilitis (peradangan pada amandel), infeksi pada telinga, dan infeksi saluran pernafasan lainnya.

Ada dua tipe kejang demam, antara lain :

  1. Kejang demam sederhana (simple febrile seizures). Yakni kejang yang terjadi menyeluruh yang berlangsung kurang dari 15 menit dan tidak berulang dalam 24 jam.
  2. Kejang demam kompleks (complex febrile seizures). Yakni kejang fokal (hanya melibatkan salah satu bagian tubuh), berlangsung lebih dari 15 menit dan atau dapat berulang dalam waktu singkat.

Yang membedakan antara kejang demam dan kejang lain (termasuk penyakit epilepsi) adalah bahwa kejang demam selalu didahului oleh terjadinya demam. Bisa karena bermacam penyakit ringan seperti batuk pilek, diare dan lain-lain. Sedangkan epilepsi tidak didahului oleh demam, dan penyebab utamanya adalah karena adanya kelainan pada otak.

Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kejang demam berulang :

  1. Usia kurang dari 15 bulan saat terjadinya kejang demam pertama.
  2. Adanya riwayat kejang demam pada keluarga.
  3. Kejang demam terjadi segera setelah mulai demam atau pada saat suhu tubuh relatif normal
  4. Riwayat kejang demam yang sering.
  5. Kejang demam pertama adalah jenis kompleks.

Bagaimana bila sudah terlanjur kejang demam? Ada beberapa tips yang mungkin berguna bagi kita semua :

  1. Letakkan anak anda di lantai atau tempat tidur dan jauhkan dari benda yang keras atau tajam
  2. Palingkan kepala ke salah satu sisi sehingga saliva (ludah) atau muntah dapat mengalir keluar dari mulut
  3. Jangan menaruh apapun di mulut pasien. Anak anda tidak akan menelan lidahnya sendiri.
  4. Jangan memegangi anak anda untuk menahan kejangnya.
  5. Berikan oksigen atau minimal biarkan udara segar terhirup oleh si anak, bila dirumah bisa dengan membuka pintu dan jendela agar udara dapat masuk dengan leluasa. Yang pasti, jangan kerumuni anak anda yang sedang kejang.
  6. Setelah kejang berakhir, bawalah anak berobat ke dokter terdekat, bukan ke dukun. Hal ini perlu untuk mengetahui dan mengobati penyebab kejang tersebut.
  7. Bila anak kejang lebih dari 10 menit, hubungi dokter terdekat atau segera bawa anak anda ke unit gawat darurat atau rumah sakit terdekat.

Bila anak anda sudah dirawat dan ditangani di rumah sakit, hal-hal berikut ini seharusnya dilakukan :

  1. Jaga jalan napas agar tidak tersumbat.
  2. Pemberian oksigen.
  3. Pemberian obat anti kejang (semisal diazepam), bisa per rektal ataupun per infus dengan dosis tepat.
  4. Pengawasan tanda-tanda vital, termasuk observasi ada tidaknya depresi pernapasan.
  5. Pemeriksaan darah penderita, antara lain pemeriksaan kadar gula darah, darah lengkap dan pemeriksaan lain untuk membantu menegakkan diagnosis penyebab kejang demam.

Banyak ibu yang was-was anaknya akan mengalami kejang susulan atau berulang setiap anaknya menderita demam. Sampai-sampai mereka menyediakan obat anti kejang seperti diazepam dikulkas rumahnya. Namun tindakan demikian tidaklah terlalu tepat, meskipun pada kasus darurat diazepam merupakan obat yang efektif dalam nenangani kejang. Mengapa tidak tepat, karena bisa saja si ibu panik ketika si anak kejang, dan memberikan obat dengan dosis yang salah sehingga kemungkinan terjadinya over dosis dan timbulnya efek samping yang berbahaya. Bila tidak terjadi salah cara pemberian, sehingga juga akan membahayakan bagi si anak. Belum lagi kemungkinan obat menjadi kadaluwarsa dan si ibu tidak mengetahui. Dan ketika diberikan, maka obat sudah rusak dan cenderung membahayakan nyawa si anak.

Disaat anak mulai demam, hal yang pertama harus dilakukan adalah melakukan kompres kepada anak. Kompres dingin dilakukan dengan cara membasahi handuk kesil dengan air dingin biasa (bukan air es atau air kulkas) dan diletakkan didaerah kedua ketiak, perut, lipatan paha dan kening si anak. Handuk tersebut terus menerus secara bergantian dibasahi dengan air dingin lagi dan diletakkan kembali ditempat-tempat tersebut. Kompres bisa dilakukan berulang-ulang sampai demam si anak turun.

Hal lain yang perlu dilakukan adalah selalu menyediakan obat penurun demam dirumah anda. Ketika dengan tindakan kompres tidak juga berhasil menurukan suhu badan si anak, maka pemberian obat penurun panas (paracetamol ataupun ibuprofen) kepada anak dengan dosis yang tepat, sesuai dengan berat badan si anak tadi. Pemberian antibiotik tidak dianjurkan dilakukan ibu, mengingat tidak semua penyebab demam memerlukan antibiotik, juga karena jenis dan indikasi antibiotik yang banyak sehingga lebih bijaksana bagi ibu untuk pergi ke dokter terdekat, dan biarkan dokter yang menentukan perlu tidaknya pemberian antibiotik kepada anak anda.

Terakhir, sebenarnya kejang demam pada anak tidak terlalu menakutkan seperti yang banyak dibayangkan orang. Karena kejang jenis ini tidak akan menimbulkan kelainan pada anak dikelak kemudian hari. Dengan melakukan penanganan yang tepat, kejang demam bisa segera ditangani.

[ taken from : www.drhandri.com ]

kiki

Passionate to Marketing, an Internet Marketing Enthusiast. Learning all things about writings, market research and digital marketing. I'm a believer that just want to share everthing about inspiring and fun things around me. So, lets learn together. " sometimes we win, and sometimes we learn "

0 thoughts on “Bila bayi dan anak anda mengalami kejang

  • October 18, 2008 at 5:15 pm
    Permalink

    makasih postingnya, cukup melegakan hati & informatif. Putriku (1,5 th) baru dua hari yg lalu pulang dr RS karena kejang demam. Paniknya tak tergambarkan karena itu pengalaman pertama kami. Syukur Alhamdulillah setelah ditangani di UGD dan nginap semalam untuk observasi, tes darah, dan periksa, dia pulih. Semoga dia baik-baik saja hingga nanti.

  • October 20, 2008 at 7:48 pm
    Permalink

    semoga Putri mba’ Anna selalu sehat ya …
    saya juga punya baby yang masih 3 bln, semoga dia tidak pernah mengalami demam kejang.
    kalo mba’ Anna punya pengalaman seputar bayi, boleh juga lho di sharing 🙂

  • October 24, 2008 at 3:50 pm
    Permalink

    Halo mba,

    anak saya berumur 8 bulan, pada tanggal 23 Oktober 2008 mengalami kejang (step) setelah demam 2 hari. Pada ahri ke-3 tepatnya sian hari sekitar pukul 13.00 WIB mengalami kejang sesaat, langsung saya membawanya ke rumah sakit dan dirawat kurang lebih 1 hari.

    Yang ingin saya tanyakan apakah akan membawa efek samping di kemudian hari ?

    Namun menurut Dokter ada juga pengaruh genetik atau keturunan, bertulkah itu ?

    Terimakasih atas jawabannya,
    Artikel anda sungguh menenangkan Saya

    Gessi

  • October 27, 2008 at 5:49 pm
    Permalink

    Mba Gessi, yang pasti kalo anak kita kejang, kita mesti cepat-cepat dibawa ke rumah sakit, supaya kita tau penyebab dari kejang tersebut dan kita mesti tau kalo kejang itu biasanya suka kambuh, jadi mba mesti siap sedia obat untuk kejang dan bila disertai demam, siap sedia juga obat penurun panas.

    Kejang yang dikategorikan penyakit keturunan itu umumnya epilepsi, tapi dokter yang menangani tentunya lebih paham, dan apabila karena infeksi maka tidak berhubungan dengan faktor genetik atau keturunan.

    Semoga anaknya selalu sehat ya…

  • December 22, 2008 at 9:22 am
    Permalink

    Terus terang, tiap kali saya membaca cerita teman-teman yang mempunyai sejarah sama dalam hal kejang2 yang terjadi pada putra-putri mereka, saya akan gampang seklai tersentuh. sebab putri saya sendiri pada umur 2.6 bln juga pernah mengalami hal yang sama. pada forum ini, saya pengen minta ke temen2 yang punya pengetahuan tentang step/kejang-kejang, saya mohon bisa di postingin dong.
    makaksih untuk pengetahuannya.

  • June 24, 2010 at 1:57 pm
    Permalink

    Bersyukur banget saya membaca posting an ini..
    Kemaren anak saya 4 bulan mengalami panas tinggi, sampai 39’c..
    Awalnya hanya diberi paracetamol dan antibiotok oleh bidan setempat,namun panasnya ga turun2 sampai hari ke tiga ia demam.
    Sore hari ketika hendak membawa ke dokter,anak sy sedang tdr dan tiba2 seperti orang kaget,dia terbangun dan meregangkan kedua tangan dan kakinya,matanya terbelalak,sy sampat panik, sy ga tau itu step atau apa?
    10 detik kemudian dia menangis..
    Teman2,ini pengalaman pertama saya, apakah hal tersebut dikatakan step?

    Tapi hari ini sy bersyukur,karena panas anak sy dah turun, stlh hari itu sy bawa ke RS dan ditangani di IGD..
    Apakah benar step karena panas tinggi bs mengakibatkan cacat mental pada anak?
    Thank’s for info..

%d bloggers like this: